Tampilkan postingan dengan label cerpen & novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen & novel. Tampilkan semua postingan

Cinta dan cita-cita, dua hal yang butuh perjuangan juga pengorbanan.'






Dulu aku benci kopi. Namun, kini sehari tiga gelas kuminum. Ya, terdengar aneh jika wanita gemar dengan kopi, karena minuman ini umumnya diminum kaum pria, tapi kini aku paham apa yang membuat mereka mencintai minuman ini, adalah sensasi. Setiap satu sesapan membawa kembali pada kenangan lampau. Paling tidak itu menurutku, sebagai wanita yang mulai menggilai kopi.

Aku memesan meja di sebuah cafe persis di samping kaca jendela, agar warna langit jingga bisa tertangkap sempurna oleh mataku, karena senja hari ini sangat indah untuk dilewatkan. Bersama secangkir kopi hangat dengan kombinasi yang pas di lidah, antara pahit dan sedikit manis masih tersisa sedikit lagi untuk dihabiskan.

"Permisi, boleh saya duduk di sini?" tanya seorang lelaki bertubuh ideal dengan perkiraan tinggi sekitar 175 cm.

Aku menatap lelaki itu, berpakaian sederhana, kaos biru tua dipadu padan celana levis berwarna senada dengan atasannya.

"Silakan!" Aku menawarkan kursi di depanku yang sedari tadi tak berpenghuni. Lalu, kembali menikmati senja.

"Saya perhatikan, Nona, sering ke tempat ini dengan posisi duduk menghadap matahari terbenam."

Masih menatap ke luar jendela, saat kuputuskan menjawab perkataannya dengan senyuman. Ah, andai dia tau kalau aku sangat lelah. Nando, namanya, lelaki yang pandai mencairkan suasana. Ya, meski baru beberapa jam, tetapi dia bisa membuatku tersenyum. Banyak hal yang dia ceritakan, hingga tak terasa senja telah berganti gelap. Setelah bertukar alamat rumah dan nomor telepon, kami pun saling berpamitan.

***

Sejak pertemuan itu, hubunganku dan Nando menjadi akrab. Kami sering bertemu di cafe yang sama dan pada jam yang sama pula.

"Mba!" Nando memanggil seorang pelayan cafe dengan menautkan ibu jari dan jari tengah hingga tercipta suara nyaring.

Dari tempatku duduk, terlihat seorang pelayan menoleh ka arah Nando. Tak berapa lama, pelayan itu menghampiri meja kami.

"Pesan kopi hitam tanpa gula! Kau mau apa Rasti?" ujar Nando. Sang pelayan mulai sibuk menggerakkan penanya di atas kertas. Kemudian, setelah pesanan kami lengkap pelayan itu berlalu pergi.

Nando berkata, kalau akhir-akhir ini ia sedang menyukai kopi pahit. Pasti karena perasaannya sedang berbunga-bunga, aku langsung menebaknya.

"Kok, kamu tau?" tanya Nando dengan wajah heran.

Aku melempar senyum padanya. "Taulah, biasanya kaum pria memang begitu." Aku berdalih.

"Sekedar menyeimbangi hidup aja. Aku sedang bahagia bisa dekat dengan wanita sepertimu, sebab itu aku minum kopi pahit, agar tak terbuai dengan manisnya kebahagiaan. Takut lupa diri, jadi sewaktu-waktu hati terluka, sudah tak kaget lagi. Rasa pahit yang hadir dari kopi membuatku tetap terjaga."

Pemikiran yang aneh bukan? Menurutku, iya. Saat orang tuaku masih ada, aku diajarkan untuk selalu berpikir positif, sabar dan ikhlas sedari dulu. Lalu, iseng-iseng aku mulai menggoda Nando ....

"Berarti kalau lagi sedih, atau sakit hati, kamu minum kopi manis, dong?"

Nando segera meniup dan menyesap secangkir kopi pahit yang baru saja mendarat di meja kami bersama pesanan lainnya, termasuk kopi manis pesananku. Dia tersenyum menjawab ejekanku, terlihat jelas cairan hitam dan sedikit bubuk kopi menempel di bibir atasnya. Itu karena dia meminumnya masih dalam keadaan asap mengepul.

"Yup, kamu betul, dan kalau hatiku sedang biasa-biasa saja ...."

Kamu pasti memilih tak minum kopi, aku menyela ucapan Nando. Kini, wajahnya tampak terkejut. Tak sampai di situ saja, kami juga bersenda gurau, bercerita tentang pengalaman, kebiasaan, dan orang tua kami. Nando mengatakan, mamanya adalah wanita hebat, belasan tahun hidup sendiri berbekal uang pensiun almarhum sang suami dan dagangan sederhana untuk membiayai hidup mereka. Begitu asyiknya mengobrol, hingga tak terasa malam jugalah yang memisahkan kami.

"Besok ikut aku! Akan kuperkenalkan kau dengan mamaku," ujarnya.

Sejenak aku bergeming. Nando menatapku dengan kedua alis terangkat.

"Hmm, ini ajakan atau perintah?" ledekku pada Nando.

***
Ternyata Nando serius saat mengatakan ingin mengenalkanku dengan mamanya.

"Ma, kenalin ini Rasti."

Aku meraih dan mencium telapak tangan Tante Nita, mamanya Nando. Lalu, tanpa sungkan aku dipeluknya.

"Duduklah, Rasti!" perintah Tante Nita setelah melepas pelukannya.

Tante Nita duduk persis di sebelahku, sofa panjang berwarna krem miliknya masih menyisakan satu tempat lagi untuk diisi. Namun, Nando memilih duduk berseberangan denganku dan mamanya.

"Mama, masak apa?" tanya Nando.

"Baru mau masak tadinya. Eh, kamu dan Rasti keburu datang. Maafkan tante, ya, Ras. Pas kamu datang belum ada makanan." Tante Nita menggenggam erat tanganku.

"Ya, sudah, biar Nando beli di luar aja, Ma," ujar Nando.

Namun, Tante Nita segera mencegah, takut tak sesuai selera Nando, alasannya. Akhirnya, aku dan Tante Nita memutuskan untuk memasak bersama di dapur.

"Kita mau masak apa, Tan?" tanyaku.

"Masakan simple aja, kesukaan Nando. Nasi goreng udang. Kamu tau kan bumbunya?"

Aku menggangguk cepat dan segera melarang Tante Nita ikut repot di dapur. Biarlah dia cukup melihatku masak saja. Kerjaan ini tak butuh waktu lama, karena sebelumnya Tante Nita sudah menyiapkan udang segar serta bumbu nasi goreng yang sudah diracik.

Tiga puluh menit kemudian, kami bertiga sudah berada dalam satu meja makan. Suapan nasi goreng pertama melesat ke mulut Nando. Lalu, aura wajahnya seketika berubah, ia bergeming.

"Kenapa, Nando?" tanya Tante Nita.

"Rasa nasi goreng ini enak banget, rasanya familyar sekali di lidah, Ma," ujarnya yakin.

Tante Nita menatapku, matanya mulai berembun. Nando meneruskan makannya dengan lahap hingga tak ada satu butir nasi pun tersisa di piring. Usai makan, di hadapan Tante Nita, Nando mengutarakan niatnya ingin melamarku.

"Nando yakin, Ma, dengan pilihan Nando. Entah kenapa, meski baru tiga bulan kenal Rasti, tapi rasanya seperti sudah kenal lama," ucapnya seraya menatapku.

Tante Nita juga ikut menatapku, dia tersenyum.

***

Kami menikah tanpa pesta, hanya menggelar pengajian antar tetangga dan saudara. Ya, berselang sebulan setelah lamaran Nando, Tante Nita menyuruh kami untuk segera menikah.

"Ini kopinya!" ujarku seraya menyerahkan kepada Nando.

"Pahit?"

Aku mengangguk. Lalu, kuserahkan box berisi nasi goreng udang untuk bekal makan siang di tempat kerjanya. Nando mendekatkan wajah ke box itu ....

"Hmm, aromanya bikin laper."

Setelah itu, dia lanjutkan dengan menyesap kopi buatanku, meninggalkan ampas kopi di cangkirnya.

"Sepertinya aku akan terus minum kopi pahit buatanmu. Sejak pertama bertemu aku yakin kamu jodohku, Rasti, terlalu banyak kebetulan antara kita. Kau seolah tau apa pun tentangku."

Setelah berkata itu, Nando mencium keningku, lalu bergegas pergi untuk bekerja. Kutatap tubuh tegapnya hingga menghilang dari pandangan. Andai dia tahu, bahwa tak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini.

Ada kisah kita di masa lalu, Nando. Sehingga kurela bersandiwara, mengulang kembali cerita cinta, moment pertama kali bertemu. Bekerja sama dengan Tante Nita, agar impian berumah tangga terwujud. Andai kecelakaan itu tak mengambil memori tentang kita di kepalamu. Mungkin kita sudah menikah dua tahun lalu.

Mangantar Kepergianmu

Based on true story 

Seorang pria datang di hidupku, dia sangat lucu, dia selalu mneggodaku. Tapi dia adalah adik kelasku di SMA. Saat aku kelas dua SMA dia masih kelas satu. Bayangkan saja betapa beraninya dia menggodaku sebagai kakak kelasnya. Aku seorang vokalis band SMA. Semua bermula pada saat aku habis tampil di acara pensi sekolah. Teman temanku kebanyakan adalah laki laki karena aku adalah vokalis wanita dan satu satunya. Dia bernama Adam. Gitarisku pada saat itu mengenalkan Adam pada kami semua. First Impresion, Adam bertubuh gembul, dia sangat putih bagi seukuran kulit laki laki pada umumnya. Namun dia sangat lucu dan mudah beradaptasi. Pada saat itu band kami berkesampatan kembali tampil untuk merayakan hari ulang tahun sekolah, namun gitarisku tidak bisa mengikuti acara tersebut karena harus pergi ke luar kota bersama keluarganya. Jadilah Adam sebagai cadangan yang di perkenalkan kepada kami semua. 

Dari situ awal mula kedekatanku dengan Adam. Bermula sering BBM an, latihan bersama hingga akhirnya nongkrong bersama. Aku juga merasa nyaman, dengan usia yang terpaut satu tahun di bawahku namun dia sangat pengertian.  Lalu acara ulang tahun sekolah pun berlangsung, kami tampil maksimal. Seusai acara tiba tiba adam menghampiri aku dan mengajakku ke taman sekolah. Aku kaget dan senang tiba tiba adam menyatakan perasaannya padaku. Namun saat itu aku memang belum begitu ada rasa dengan adam jadi aku pun menolaknya. Aku pun bilang sangat nyaman bersahabat dengannya. Dia tertawa dan hanya bilang "oke kita jalani aja kayak gini dulu sampe kamu ada feel sama aku.." aku hanya tertawa. Buset ni anak sok dewasa banget.

Pertemanan kami berlangsung sampai akhirnya aku naik kelas 3 SMA dan sudah akhir semester. Selama satu tahun terakhir aku berjalan bersama Adam, have fun bersama dan nge band bersama di luar sekolah. Antar jemput pun menjadi rutinitas setiap hari. Rumah kami memang agak jauh tapi dia senang senang saja setiap kali aku suruh menjemputku. Mama papaku pun sudah mengenal Adam, sudah akrab dengan Adam. Adam adalah sosok laki laki yang sopan, dan sangat menyenangkan. Begitupun aku. Aku mengenal orang tua adam juga dan mereka memperlakukanku dengan sangat baik.

Lalu di situ pula aku mulai merasakan nyaman dengan Adam dan mulai percaya. Dan dia pun akhirnya menyatakan kembali perasaannya kepadaku. Dan aku menerima. Tidak ada yang berbeda, hari hari kami sama seperti biasa dan sama seperti pasangan Alay lainnya. foto foto berdua dan jalan jalan. Hubungan kami berlanjut hingga aku ujian akhir kelulusan SMA. Aku berencana melanjutkan kuliah di salah satu universitas A. Dan Adam pun berjanji semangat sekolah agar bisa bersama kembali denganku di universitas A. 

Sore itu aku di rumah, sedang mendengarkaan lagu linger dari cranberries dan mengerjakan tugas tugas akhir. Adam sempat mengirimkan pesan kepadaku bahwa dia mau menjemput temannya untuk belajar kelompok. Terus aku bilang "kenapa temenmu gak bawa motor sendiri sih, kok kamu yang jemput?" dia bialng "ia dia cewe gak bisa naek motor yank..,mamanya tadi telpon ke aku soalnya". "oke deh hati hati di jalan, kabari kalo uda sampe ya yank" balasku. Namun setelah jm 17.45 ada telpon masuk dari mamanya adam. Aku pikir ada apa mamanya telpon sore sore gini. Aku angkatlah telponku lalu..
"dea..dea..Adam di rumah sakit dea" kata mamanya
"loo... bukannya lagi kerja kelompok tante... tadi dia bilangnya"
"ia.. dalam perjalanan mau jemput temennya adam kecelakaan sama bis, kritis di rumah sakit" sahut mamanya.

Sontak aku langsung loncat dari kasur dan pamit ke mamaku. Ma Adam kecelakaan aku mau ke rumah sakit. Mamaku pun kaget dan hanya berpesan hati hati. Sesampainya di rumah sakit aku melihat dia sudah terbaring di kasuh bersimbah darah, Dari kepalanya banyak darah namun dia masih membuka mata. Dia mencoba mengingat semua teman teman kelasnya. Seperti sedang mengabsen semua teman di kelasnya. Aku hanya melihatnya dari luar pintu sambil mengis. Aku tak tega melihatnya seperti itu. namun di saat terakhir dia menyebutkan namaku berulang ulang "dea..dea..dea". Tak kuasa menahan air mata mamanya Adam memelukku dengan erat. Sambil kami menunggu dokter dan perawat melakukan tindkan. Semua satu persatu keluarga Adam pun datang ke rumah sakit.

Aku menangis dan terduduk di ruang tunggu, sambil membaca doa semoga dia selamat dan sehat. NAmun hal yang ku takutkan terjadi. Dokter keluar dari ruangan dan mengatakan bahwa Adam telah tiada. Aku pun menangis sejadi jadinya. Kenapa semua begitu membingungkan aku masih tidak percaya karena 2 jam sebelum kecelakaan dia sempat mengirimiku pesan. Aku merasa Adam masih ada. Dia hanya tidur. Tidak hanya aku yang tidak percaya, semua keluarganya pun tidak percaya bahwa adam telah tiada. 

Hari itu aku pulang di antarkan kakak sepupu adam. Rencana pemakamannya pun akan di lakukan besok pagi. Sesampainya di rumah aku pun sudah tidak nafsu makan. Aku terus melihat handphoneku dan melihat foto foto kami. melihat pesan terakhir kami. Aku hanya berharap ini semua mimpi. Aku tidak tai kenapa aku benar benar terpuruk hingga mamaku menemaniku tidur malam itu. Keesokan harinya aku dan mamaku datang ke rumah adam. Air mata semalam tidak bisa terhenti. Kembali aku melihat dia yang sudah terbujur kaku dengan kain kafan putih. Aku mengantarkan kepergiannya ke pemakaman. Sambil aku terduduk di atas batu nisan adam hanya menagis dan mengelus batu nisannya. 

Sesampainya di rumah aku tetap menagis kenapa secepat ini kamu pergi meninggalkan aku adam, bukannya kamu janji akan masuk di universitas yang sama denganku. Menjemput dan mengantarku pulang sekolah. Karena kurang 4 bulan lagi aku lulus. Kamu janji mau jalan jalan beli es krim minggu depan. Mengingat ingat hal itu hatiku sakit. Aku tidak mau sekolah, Aku ijin selama 5 hari karena aku juga sakit.

Lalu aku menulis surat di halam FB mu :
Dear Adam sayangku cintaku..
Kamu kemana? kenapa kamu gak kerumahku lagi mamaku mencarimu. Aku mau curhat masalahku. Kamu kalau kerumah bawa es krim ya.. yang vanila seperti biasanya. Adam sayang kamu sudah makan kah?  mamaku bikin cumi saos hitam kesukaanmu. Sayang kamu kok gak telpon sama sms aku lagi.? Aku kangen kamu.. aku kagen pengen cubit pipimu. Sayang kamu loo janji mau masuk kampus yang sama sama aku. Kamu janji nanati mau dateng kalo upacara kelulusanku. Kamu kok gak jadi dateng terus aku giamana donk?, Mau ada acara band lagi loo sayang aku gak mau nyanyi lagi. Aku gak suka nyanyi kalo kamu gak ada. Sayang aku kangen kamu mampir gih di mimpiku aku pgn ketemu kamu pengen banget...

Aku tidak mengikhlaskan Adam pergi namun aku juga tidak bisa hanya diam terpaku karena jalanku masih panjang. Sudah 5 tahun kepergian Adam semua masih terasa dekat. Namun aku masih menutup hatiku dengan orang lain. aku belum siap untuk bersama yang lain. Aku menguatkan imanku dan terus berusaha kuat menghadapi kenyataan. Aku dan mamanya adam juga masih sering bertukar pesan. Aku akhirnya berani menyanyi kembali. dan lagu Linger dari Cranberries aku persembahkan untuk Adam. Semoga kamu tenang di sana dam.. Kami semua mencintaimu terutama Aku...
(nama tokoh di samarkan)
bantu doa untuk semua teman, keluarga yang kita cintai yang telah pergi meninggalkan kita terlebih dulu. Al Fatihah...





Ma'had Of Love



Aisyah. Gadis berparas cantik dan juga smart, namun kepandaiannya tak menjadikan orang tuanya bangga, terlebih sang Papi yang merasa tak mampu menghadapi kelakuan nakal Aisyah. Akhirnya memutuskan untuk memasukan Aisyah ke pesantren. Aisyah berusaha sekuat tenanga merubah semua kebiasaannya dengan jalan yang tak mudah, karena di tahun pertamanya takzir adalah sahabat yang selalu menemaninya.

Zuhri seorang senior sekaligus ustad, jatuh hati saat pertama kali bertemu dengan Aisyah. Dan di sisi lain terdapat Fikar teman bermain semasa sekolah dulu. Pinangan Zuhri membuat Fikar terpuruk dan memutuskan untuk kembali ke Kairo.

Namun jodoh sejatinya adalah kehendak Allah, terkadang dia yang sudah di depan mata bisa sirna begitu saja. Tugas seorang hamba hanya berusaha.

GERIMIS DI PAGI HARI

Jengkel, marah, benci menyeruak menjadi satu. Mengalir dalam aliran darah, mencuat dalam dada. Sesak!. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Aisyah Putri. Gadis berwajah ayu yang tengah menarik asal kopernya. Bersiap untuk meninggalkan semua kesenangannya. Bergaul dengan segala hal yang tak ia sukai, namun keputusan seorang Ibrahim sudah tak bisa di ganggu gugat. Hari ini adalah keberangkatan Aisyah ke pesantren.

"Sudah siap berangkat?" suara lembut Ayu, Mami Aisyah.

"Hmm." Masih dengan wajah juteknya. Sebenarnya Ayu tak tega untuk melepasnya, di dunia baru yang serba berkebalikan dari kehidupan Aisyah saat ini. Namun kasih sayangnya tak membuat buta akan pentingnya mendidik anaknya secara agamis agar tak lupa dengan sang pemilik kehidupan.

Jika Aisyah pernah mengaji atau shalat itu dulu. Dulu sekali, sebelum dia masuk Sekolah Menengah Kejuruan dan salah pergaulan. Mungkin kini dia sudah lupa bagaimana mengaji dan sholat dengan baik. Itulah yang membuat Ayu yakin bahwa keputusan suaminya adalah hal yang paling baik.
Apapun yang di janjikan oleh Aisyah tak merubah keputusan Papinya. Jika Aisyah anak yang keras kepala, papinya lebih keras lagi. Keputusannya tak dapat ditawar.

"Pi, kenapa harus di pesantren sih!. Aisyah bisa berubah tanpa harus di kirim ke neraka." Suara Aisyah terdengar parau menahan tangis dan kekesalannya. Ingin dia meloncat dari dalam mobil, andai itu bisa membuat hati Papinya luluh.

"Sayang, pesantren itu bukan neraka. Itu adalah taman surga, tempat dimana para penuntut ilmu agama berada. Percayalah saat kau sudah di pesantren, kau tak akan ingin pulang."

KOLOT. Itulah yang di pikirkan Aisyah tentang kedua orang tuanya. Padahal belajar ilmu agama bisa dengan mendengarkan ceramah ustad di youtube, tak perlu repot untuk nyantri. Secara dunia sudah dalam era digital. Kenapa hidupnya harus serumit seperti sekarang.

Akhirnya Aku akan masuk neraka
.

Sesampai di pelataran pesantren, hati Aisyah semakin sakit. Dia merasa diasingkan dan dibuang oleh orang tuanya. Air matanya luruh tanpa di ketahui oleh kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan salah satu santri di dekat tempat parkir. Kedatangan mereka di sambut dengan sangat sopan oleh salah santri tersebut.

"Monggo pinarak. Abah masih ngaos," tuturnya kalem.

Aisyah jenggah melihat perigai santri tersebut. Sok alim pikirnya. Dia memilih mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Banyak santri lalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Tempat parkir dekat dengan asrama laki-laki, jadi wajar bila yang pertama kali menyambut mereka adalah para santri putra. Ada beberapa santri menyapu halaman, berkomat kamit tak jelas dengan memegang buku kecil (Nadhom). Sampai matanya tertuju pada seorang santri putra yang sedang berbincang dengan santri putri di dekat ndalem (kediaman Kyai).

"Mi, kata mami santri putra dan putri tidak diperbolehkan berduaan!. Nah, itu apa?" sambil menunjuk ke arah di mana santri itu berada.

"Sayang! Jangan suudhon. Siapa tahu mereka saudara atau memiliki keperluan," tutur Ayu tetap kalem dengan menurunkan tangan Aisyah yang menunjuk santri yang sedang berbincang.

"Heleeh, paling itu alasan yang mereka buat-buat," kesalnya.

"Tujuan Kamu ke sini bukan untuk mengoreksi kesalahan orang lain Aisyah. Betulkan sendiri sikapmu yang selalu membuat Papi naik darah," tegas Ibrahim.

Aisyah melengos dengan kepalan tangan serta gigi yang mengertak. jika yang berbicara itu bukan orang tuanya, pasti Aisyah sudah melayangkan tinjuan ke mukanya.
"Papi." Ayu memberi isyarat pada Ibrahim agar diam.

Terdengar derup langkah kaki serta deheman dari arah ruang tengah. Nampak sosok Kyai menyibak tirai. Pembawaannya yang berwibawa dan teduh membuat hati tenang.

"Assalamualaikum, ada tamu jauh rupanya," ucap Kyai tersebut lalu duduk di dekat Papi.
"Apa kabar Ayu, Him?" Sapaan beliau terdengar begitu akrab terhadap kedua orang tua Aisyah.

Ibrahim menyampaikan tujuannya ke pesantren tersebut. Aisyah hanya dapat meremas gamis yang dikenakannya. Bagiamana tidak, Papinya menceritakan semua aibnya pada Kyai tersebut. Kyai itu hanya manggut-manggut dengan senyum yang tak lepas sejak keluar menemui keluarga Aisyah. Kyai Dahlan memanggil abdi ndalem untuk mengantar Aisyah ke asrama putri.

"Nduk, ternoh cah iki nang asrama (antarkan anak ini ke asrama)." Tanpa basa basi wanita sebaya dengan Aisyah itu mengajaknya masuk.

Bersambung