Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Keturunan Reje Lingge Di gayo Kuala( TOA) & Arti Gayo


Arti Gayo menurut Buku Sarah Kata berarti Gerep (Kepiting Air Sungai Yang Besar). Di Gayo ada Dua Gerep Besar yaitu Gerep Jantan Bernama Porang berada di Desa Porang Blang Pegayon (Blang Penggerepen) Kabupaten Gayo Lues sekarang & Gerep Betina Bernama Bakongen di Desa Wihni Bakong Silihnara Kabupaten Aceh Tengah Sekarang, itulah Makhluk hidup dari Jenis Binatang yang Pertama di lihat oleh Nenek Moyang pertama Orang Gayo di Serule, saat Nenggeri Gayo masih lautan. Pada Zaman Dahulu  saat musim Kawin Gayo (Gerep) Jantan ini sering berkunjung ke tempat Gayo Betina, di darat menjadi “KERUNGKUNG” di Sungai Menjadi “GEREP”. Pada Dahulu sesekali Gerep Betina di Desa Wihni Bakong sering muncul, Legenda itu bisa diteliti langsung ke Desa Wihni Bakong, kepada orang tertua setempat. Gayo (Gerep) besar ini mempunyai banyak anak salah Satunya sudah menjadi Batu di Loyang Gunung Salak (Gunung GOH) Pasai Aceh Utara, ada sebuah Loyang (Gua) bersambung Gerep (Kepiting) sudah menjadi Batu bersambung dengan Rumah, disampingnya ada Keong Mas Besar yang juga menjadi Batu.
Kerajaan Gayo Kuala didirikan Oleh Sayid Ali dengan Gelar Reje Wali bin Reje Linge Ke-VIII Pute Merhum Mahkute Elem berpusat di Kute Gelime Ketol Silihnara, & Mendirikan Satu Rumah Adat (Umah Pintu) disana.
Inilah Draf Daftar Keturunan Reje Linge di Gayo Kuala:
1. Muyang Penucuk Serempah Ketol Bin Reje Linge Ke-IV Pute Merhum Mahkute Elem, Keturunannya Gecik Serempah.

2. Syaikh Abdur Razak Blang Bebangka Bin Reje Linge Ke-VII Pute Merhum Mahkute Elem Keturunanya PJS SD Paya Tumpi Atas.

3. Reje Putih Pegasing Bin Panglime Celala (Datok Pulih) bin Puteri Uring Pegasing Bin Reje Linge Ke-VIII Pute Merhum Mahkute Elem, Keturunannya: 
a. Bang Zam-Zam Mubarak
b. Bang Sarjana Kuyun
c. Dini Asril
d. Selamat Sejahtera Celala

4.  Sayid Ali (Reje Wali) Pendiri Kute Gelime Ketol Bin Reje Linge ke-VIII Pute Merhum Mahkute Elem mempunyai 6 Orang Anak, yaitu:
(1)  Muyang Ketol Keturunannya Muhammad Ali Bin Granat di Kala Ketol Bah.
(2) Muyang Singkiren Keturunannya Guru Polok Singkiren.
(3) Muyang Alur Kumer Keturunannya Bang Win Macan Alur Kumer.
(4) Muyang Beruk Syah (Bergang) Keturunannya di Bergang.
(5) Datok Kuala Rawa (Muyang Pamar) Keturunannya di Pamar.
(6) Puteri Selun Blang Mancung Keturunannya Jamaluddin di Blang Mancung.
5. Puteri Kemili (Muyang Kemili) Keturunanya Bang Mustari di Kemili Bebesen.

6. Jejem Jampuk Linge (Wih Ilang Pegasing) Bin Jampuk Nyak Lane Bin Reje Linge XII Pute Merhum Mahkute Elem Keturunannya Adji Merah Bale.

Inilah Data Valid yang Kami Dapat dari Buku Sarah Kata Buku Undang-Undang Kerajaan Nenggeri Linge, yang ditulis oleh Abdullah Al-Kalam (Datok Kalam), yang diterjemahkan kedalam tulisan Arab Melayu dari Tulisan Aksara Gayo oleh  6 Syaikh yang diminta oleh Reje Linge untuk menuliskannya, 3 di antaranya sangat terkenal Penyebar Agama Islam di Gayo yaitu Syaikh Abdul Qadir Jailani, Syaikh Abdul Rauf Fansury & Syaikh Muda Wali.
Jadi kalau ada yang mengatakan Sejarah Gayo itu dongeng itu akan berhadapan dengan saya sampai kemanapun saya cari orang itu, kalau ada yang tidak senang dengan saya datang ke Kenawat Lut Kampug Halaman saya, Buku ini akan kita Bagi ke Seluruh Orang Gayo & Karo, & Gayo Johar (Sumatera Timur) serta Pecahan Suku Gayo di luar Gayo, mohon bersabar sebentar. Karena kami sedang menyusun sampai ke Keturunan terkecil, Keturunan yang Baru Lahir Baik dari Garis Ghalim bin Sam bin Nuh ‘alaihissalam maupun dari Garis Maulana Malik Ishaq adik dari Maulana Malik Ibrahim (Kakek dari Merah Silu) bin Abdul Malik Syah (Sultan Perlak Ke-VII). 
Sumber: 1.  Buku Sarah Kata “Awal Serule Asal Linge” Tahun 1115 Masehi.
2.  Buku Sarah Kata “Kejurun Linge” Tahun 1237 Masehi.

Dikeluarkan: Senin 11 Ramadhan 1436 H/ 29 Juni 2015 M.
Penulis: Seger Tona, S.Pd (Setie Reje Blah Cik Kenawat Lot) Keturunan ke -8 dari Reje Kenawat Lot Pertama Muyang Sapu Arang Bin Muyang Isaq bin Sereje Imem Bin Selawajadi Bin Amat Benta Jamat Bin Malim Dewa (Suami Puteri Bensu) Jamat Bin Reje Payung Jamat Bin Panglime Depuk Serule Bin Muyang Keker Serule Bin Syaikh Said (Mesjid Asal Penampaan) Bin Datok Dimin (Pendiri Kampung Tungel Rikit Gaib) Bin Datu Uyem Kebayakan Bin Maulana Malik Ishaq (Raja Isaq Pertama).

FOTO-FOTO LANGKA AGRESI MILITER BELANDA DI INDONESIA

tahun 1945 perang dunia ii berakhir, belanda yg telah lepas dari cengkeraman nazi german ternyata msh menyimpan mimpi utk menguasai kembali hindia belanda, belanda tak rela sumber kekayaan yg selama 350 thn telah memberi mereka kemakmuran lepas sia-sia. Mereka segera memobilisasi pemuda2nya untuk dikirim ke nusantara. Babak ini mengawali perang yang kejam yg berkobar hingga empat thn lamanya di indonesia.

Berikut Gambar-gambarnya:

Mengapa banyak peninggalan Majapahit ada di luar negeri ?

 emas majapahit 5

Majapahit Gold


Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).

Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.

Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama : SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Top of a Scepter
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247

sang2bdwija2bnaga2bnaresmara

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

 sang2bhyang2bbaruna

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Dipasang di atas kapal yang memimpin rombongan ekspedisi, menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji : “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari.

Berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan eksis sampai saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah : ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya : ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Raden WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). Kehandalan ADITYAWARMAN sebagai duta lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai : Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi GAJAHMADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi GAJAHMADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan nusantara lewat SUMPAH PALAPAnya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang GAJAHMADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran di separuh kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit.

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun GAJAHMADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.

PUSAKA-PUSAKA MILIK MAJAPAHIT

emas2bmajapahit2b1

 Jenis : Pusaka Kubur
Nama : TOPENG KUBUR
Era : Majapahit, Abad ke-14
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Funerary Mask
Period: Eastern Javanese period
Date: 14th century
Culture: Indonesia (Java, Majapahit)
Medium: Gold
Dimensions: Diam. 7 1/2 in. (19.1 cm)
Classification: Sculpture
Credit Line: Gift of The Kronos Collections, 1995
Accession Number: 1995.569.2

 emas2bmajapahit2b2

Jenis : Pusaka
Nama : Liontin KEPALA DEWA SIWA
Era : Majapahit, abad ke-15
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Head of Shiva(?)
Period: Majapahit period
Date: ca. 15th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 1 1/2 in. (3.8 cm)
Classification: Sculpture
Credit Line: Gift of Cynthia Hazen Polsky, 1991
Accession Number: 1991.423.11
This artwork is not on display

 emas2bmajapahit2b3

Jenis : Pusaka Emas
Nama : LIONTIN KALA
Era : Abad Ke-10
Asal : Jawa Timur
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Rattle with Kala Head
Period: Eastern Javanese period
Date: last quarter of the 10th–last quarter of the 14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: 2 3/4 in. (7 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.26
This artwork is currently on display in Gallery 

 emas2bmajapahit2b4

Jenis : Pusaka Emas
Nama : HULU KERIS
Material : Emas
Era : Perkiraan abad ke 9 – 14
Asal : Jawa Timur
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Weapon Handle with Ganesha
Period: Eastern Javanese period
Date: early 9th–14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 2 1/8 in. (5.5 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.56
This artwork is currently on display in Gallery 247


 emas majapahit 5

Jenis : Pusaka Emas
Nama : HULU KERIS
Material : Emas
Era : Abad ke-15
Asal : Majapahit
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Hilt of a Weapon
Period: Eastern Javanese period
Date: last quarter of the 10th–last quarter of the 15th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions:
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.43
This artwork is currently on display in Gallery 247


 arca2bmajapahit2b2

Melihat ornamennya yang lengkap sesuai cerita GARUDHA MUKHA dan model hiasannya, saya meyakini arca ini dibuat di era Kerajaan Kahuripan pada abad ke-10 / 11. Sebab ketika era KADIRI dan SINGHASARI, ornamen KURA-KURA tidak digunakan lagi.

Koleksi :
THE BARAKAT GALLERY – Baverly Hills, CA – USA
Gold Sculpture of Vishnu Riding on the Shoulders of Garuda – CK.0051
Origin: Indonesia
Circa: 900 AD to 1300 AD
Dimensions: 7.25″ (18.4cm) high x 3.5″ (8.9cm) wide 989 Grams
Collection: Asian
Style: Javanese
Medium: Gold

 arca majapahit wisnu


Jenis : Arca Emas
Nama : DEWA WISNU
Era : Kerajaan Majapahit, abad ke-14
Koleksi : Museum Eropa (namanya dirahasiakan)

 pusaka2bmataram2b7

Jenis : Pusaka Kasekten (Kesaktian)
Nama : DURGO NGERIK
Era : Majapahit, abad ke-14
Tangguh : Daha (Kadiri)
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Kris
Date: 18th–19th century
Culture: Javanese
Medium: Steel, gold, and wood
Classification: Krisses
Credit Line:
Edward C. Moore Collection, Bequest of Edward C. Moore, 1891
Accession Number: 91.1.899
This artwork is not on display


Jenis Pusaka : Keris Sikep (Kebesaran)
Dapur : SINGO BARONG Kinatah Emas
Pamor : Lintang Kemukus
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 924-58
Asal Perolehan : Yogyakarta

Satu lagi Pusaka Ampuh MATARAM yang berpamor langka : Lintang Kemukus yang terpasung di luar negeri. Ini bukan satu-satunya pusaka utama kita yang tersandera, ada ribuan dalam database mereka, semoga saya bisa mengakses masuk dan menunjukkan kepada anda semua. Tetapi ada yang sedikit melegakan, rata-rata kondisi pusaka terawat dengan baik, saya dengar mereka malah mempekerjakan orang Indonesia yang paham pusaka guna merawat koleksi museum.

Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 924-58
Material / technique: iron, nickel, gold, silver, brass, copper, wood
Dimensions: L 51 cm, L 41 cm blade, sheath 44 cm L
Date: for 1893

 pusaka2bmataram2b5

Jenis Pusaka : Tombak Pataka (tempat mengikat bendera Kerajaan)
Nama : KYAI TJAKRA
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 704-15
Asal Perolehan : Yogyakarta
Staatsielans sheath and (say)
Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 704-15
Title: staatsielans sheath and (say)
Material / technique: gold, silver, copper, brass, wood
Dimensions: L 226 cm, 22.5 cm L point, B point 20 cm, 3.2 cm shaft D, L sheaths 11 to 18.8 cm, 2.6 to 10 cm B sheaths
Date: [NI]
Indigenous name: tjakra
Function: status, rank and dignity signs, identifiers
Culture: Yogyakarta
Origin: Yogyakarta

 pusaka2bmataram2b4

Jenis Pusaka : Tombak Pataka (tempat mengikat bendera Kerajaan)
Nama : KYAI ARDA DEDALI
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 704-13
Asal Perolehan : Yogyakarta
Staatsielans and sheath
Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 704-13
Title: staatsielans and sheath
Material / technique: gold, diamond, wood, silver
Dimensions: L 230 cm x 6.4 cm section 22; D shaft 3 cm x 2.5 cm sheath 17
Date: [NI]
Indigenous name: Arda dedali
Function: status, rank and dignity signs, identifiers
Culture: Yogyakarta
Origin: Yogyakarta

380-800x450

Majapahit Artilery

Sebagai orang Indonesia, BANGGA saya karena nenek moyang kita HEBAT dan sangat LUARR BIASA, namun di sisi lain saya juga SEDIH karena tidak bisa menjaga peninggalan-peninggalan ini, sehingga diambil orang dan jadi milik mereka. Akhirnya, mengutip kalimat dari Presiden Sukarno, 

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

Mengenal Saladin Yang Hebat Dalam Peperangan Tapi Lebih Dikenal Karena Kerendahan Hatinya



An-Nasir Salah ad-Din Yusuf bin Ayyub, atau yang lebih dikenal dengan nama Saladin, merupakan seorang Muslim Sunni dari etnis Kurdi. Saladin adalah ayah dari dinasti Ayyubiyah yang memerintah Mesir dari tahun 1174 hingga 1193. Lahir di Takrit, Irak, Saladin adalah putra seorang sipir bernama Najm ad-Din Ayyub yang kemudian menetap di Mosul bersama keluarganya. Ayah Saladin kemudian menjadi bagian dari militer, jadi dia mengirim putranya, bersama saudaranya, untuk belajar seni politik dan perang.

Referensi pihak ketiga

Saladin dikenal dunia karena prestasi militernya dalam pertempuran melawan tentara salib. Saat itu Saladin meraih kemenangan terbesar dalam hidupnya dengan mengalahkan mereka dan menaklukkan kota suci Yerusalem dan menjadikan negara tersebut menjadi negara Islam. 

Saladin mendirikan kerajaan yang sukses sebagai hasil dari pengabdian agamanya, dan ia diketahui telah menyatukan beberapa negara Islam utama di bawah pemerintahannya.

Kehebatan Saladin dalam pertempuran memanglah ditakuti oleh musuh, akan tetapi Saladin lebih dikenal dari kehebatanya memperlakukan orang-orang di negara yang dia taklukan.

Saladin dikenal dalam sejarah sebagai ksatria yang santun melalui sifatnya yang rendah hati dan murah hati. Rasanya hampir tidak percaya ketika melihat seorang sultan dengan latar belakang kehebatan dalam bertempur bisa sangat peduli pada kehidupan orang-orang yang tinggal di tempat-tempat yang ia taklukkan. 

Referensi pihak ketiga

Dengan penaklukan Yerusalem, ia bisa saja membunuh penduduk Kristen di sana untuk membalas pembunuhan Muslim akan tetapi ia memperlakukan mereka dengan sebaliknya, hal yang tidak pernah mereka pikirkan selain menjadi budak yang tersiksa.

Saladin bukan hanya sosok yang sangat di kagumi oleh orang muslim, tetapi mereka orang Kristen, Yahudi juga sangat menghormati Saladin.


Sejarah Konflik Perang Indonesia – Malaysia Tahun 1963


Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di IndonesiSejarah Perang Indonesia – Malaysia Tahun 1963soekarno-355Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia.

Referensi pihak ketiga

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kepulauan Sulu.

Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Malaysia apabila mayoritas di daerah yang ribut memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turutcampur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai

perjanjian yang dilanggar dan sebagai bukti imperialisme Inggris.

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[1] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia” kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia.


MASA PERANG

Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-“ganyang Malaysia”. Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

Referensi pihak ketiga

Ketegangan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua hari kemudian para kerusuhan membakar kedutaan Britania di Jakarta. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.

Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.

Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk Mempertahankan Malaysia.

Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama Special Air Service.

Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan ditangkap oleh pasukan Rejimen Askar Melayu Di Raja.

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

300px-NRA_marching_and_aircraftPada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Regimen Askar Melayu Di Raja.

Referensi pihak ketiga

Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

300px-NRA_marching_and_aircraftPada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Regimen Askar Melayu Di Raja.


Referensi pihak ketiga

AKHIR KONFRONTASI

Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya kudeta. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditanda tangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari



Kenapa Hampir Tidak Ada Pendekar Shaolin Melawan Tentara Jepang Dalam Perang Tiongkok


Kalau kita nonton film kungfu, kita seolah bisa membayangkan, betapa hebatnya ilmu berkelahi orang Tiongkok. Kadang ada pertanyaan iseng, ketika Jepang menyerbu negeri tirai bambu itu, kemana para penghuni biara Shaolin yang jago kungfu itu?

Referensi pihak ketiga

Sejarah membuktikan bahwa orang tua dari salah seorang pemimpin Tiongkok masa kini, Xu Shiyou, lahir di kuil Shaolin. Maklum saja, ada 700 lebih aliran seni beladiri ala Shaolin di Tiongkok. Semuanya memiliki cukup banyak cabang di seantero negeri itu.

Referensi pihak ketiga

Pertanyaannya, apakah ada perlawanan dari mereka kepada para agresor dari Jepang?

Referensi pihak ketiga

Jepang dan Tiongkok memiliki akar keagamaan yang hampir sama, yaitu ajaran Budha. Itu sebabnya, walaupun Jepang menyerang Tiongkok, mereka tidak menyerang kuil Shaolin. Hanya mereka yang tinggal di luar kuil yang dibantai habis. Walau demikian, para bhiksu penghuni kuil tidak tinggal diam dengan kondisi itu. Secara terbuka maupun diam-diam, mereka mengorganisir perlawanan dari dalam kuil.

Referensi pihak ketiga

Ada lagi alasan lain, seperti ditulis dalam sebuah dokumentaso di kuil Shaosan, Propinsi Henan. Kuil Shaolin menghindari bentrokan langsung dengan tentara Jepang yang kejam dan kuat dalam persenjataan, untuk melindungi masyarakat umum dan kaum buruh yang tidak berdosa. Para pendekar Shaolin yang memilih untuk melawan, akan bergabung dengan kelompok-kelompok perlawanan.



Tragedi Takokak 1948, Sejarah Pembantaian yang Terlukankumpulan nisan tanpa nama - boombastis

Jalan menuju kemerdekaan sebuah Negara, bukanlah hal yang mudah. Meninggalkan kisah sedih yang tidak ada habisnya. Kematian bukanlah hal yang mengejutkan. Namun terkadang pengorbanan pun terlupakan,

Kali ini marilah kita kilas balik ke tahun 1948, di mana sebuah kisah sedih masih menjadi misteri hingga hari ini. Tidak banyak orang tahu, di kawasan perkebunan teh yang masuk dalam wilayah Cianjur bagian selatan tersebut, 67 tahun lalu telah terjadi pembantaian besar-besaran yang pernah dilakukan oleh militer Belanda terhadap kaum republiken. 

Setelah Jepang mengaku kalah dari Sekutu dan pergi dari Indonesia, otomatis persenjataan Jepang diambil alih oleh militer Indonesia. Senjata yang dimiliki oleh pihak militer ini membuat Belanda dan sekutunya ketakutan. Hal ini dikarenakan sebelum Belanda kalah oleh Jepang, kekuatan persenjataan dari Indonesia tidak sehebat itu.

Perjanjian Renville - boombastis

Belanda akhirnya meminta perundingan di atas kapal perang Amerika, USS Renville. Perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Renville ini berlangsung cukup alot. Dari perundingan ini, Belanda hanya mengakui wilayah Indonesia di kawasan Jawa Bagian Tengah, Banten, dan Sumatra. Perjanjian ini juga membuat TNI harus menarik kekuatannya dari Jawa barat dan Jawa Timur.

Permintaan ini tentu saja ditolak Jendral Sudirman yang saat itu menjabat sebagai panglima TNI. Sang Jendral masih mengusahakan kekuatan ada di kawasan Jawa Barat apa pun caranya. Akhirnya, beberapa pasukan menyamar menjadi pasukan liar yang terpisah dengan kaum republiken yang menginginkan Indonesia merdeka secara utuh.

Namun ternyata pasukan Belanda mengetahui tentang pasukan Republiken yang menyamar dan kerap membuat keributan di pos Belanda secara Diam-diam. Belanda pun marah dan mulai memburu mereka.

perburuan republiken - boombastis

Bagi warga Cianjur kala itu, mereka sudah tahu, jika ada orang yang dibawa ke Takokak, orang itu tidak akan kembali.

Beberapa saksi mata yang melihat kejadian, itu mengatakan, tentara Belanda kerap melakukan tindakan yang di luar dugaan. Orang republiken begitu ditangkap akan langsung dieksekusi begitu saja tanpa ampun. Setelah dieksekusi, mayat mereka dibuang begitu saja di jurang tidak jauh dari Takokak dan kebun teh.

Hingga akhirnya Indonesia merdeka secara de jure pasca Konfrensi Meja Bundar. Dalang dari pembantaian di Takokak 1948 masih menjadi misteri. Siapa yang orang yang menembakkan pistol dari mulut hingga tengkuk para korban berlubang? Siapa yang dengan membabi buta menembak hingga tubuh mayat penuh lubang tidak juga diketahui. Namun, ada dugaan kalau aksi ini dilakukan oleh pasukan elit di bawah tangan Westerling.

Siapa pun dalang dari aksi ini, pembantaian Takokak 1948 tetaplah menjadi horor bagi banyak pihak. 



Tragedi G-30S/PKI, Berawal dari Sepiring Sate Kambing dan Berakhir di Lubang Buaya



Pagi itu, 4 Agustus 1965, di pagi hari disaat sedang asyik menikmati sarapan paginya, tiba-tiba Bung Karno merasa mual dan muntah-muntah.

Seperti pagi-pagi sebagaimana setiap harinya, saat itu Bung Karno sedang menerima tamu di beranda belakang istana dalam acara rutin coffe breakfast, namun kejadian pagi itu menyebabkan sang Presiden tidak dapat menyelesaikan sarapannya.

Foto : www.merdeka.com

Sebagaimana dikisahkan dalam buku yang ditulis Julius Pour“Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang”, Penerbit Buku Kompas, 2010, Komandan Detasemen Kawal Pribadi Tjakrabirawa saat itu, AKBP Mangil Martowidjojo, gugup dan panik saat melihat sakitnya Bung Karno itu.

Sebagai pengawal pribadi Presiden, sudah pasti Mangil merasa terkejut atas sakitnya Bung Karno yang mendadak di pagi itu.

Sejenak terlintas rasa bersalah dan penyesalan dihati Mangil.

Wajar saja ia merasa bersalah, karena ia ingat betul kejadian di malam hari sebelumnya. Saat itu ia mendampingi Bung Karno hingga tengah malam dalam sebuah inspeksi mendadak meninjau operasional Depo Pertamina di Plumpang.

Malam itu Bung Karno marah besar. Ia murka melihat pengelolaan operasional BBM di Depo Pertamina yang dianggapnya amburadul. Inspeksi mendadak Bung Karno ke Depo Petamina ini berkaitan dengan keluhan masyarakat atas kondisi kelangkaan BBM yang menimbulkan antrian BBM di mana-mana.

Setelah melampiaskan kemarahannya, Bung Karno merasa lapar karena hingga hampir tengah malam belum makan malam. Beliau minta dicarikan tempat makan karena sebelum berangkat tadi, ia belum sempat makan di istana.

Kondisi Jakarta yang belum ramai saat itu, membuat sulit bagi Mangil untuk menemukan rumah makan dan restoran yang masih buka di daerah sana.

“Karena hari sudah terlalu larut malam dan memang telah lewat tengah malam, cuma ada sebuah warung sate kambing yang bertemu masih buka dekat Cilincing. Bapak lalu memutuskan, yo wis, ana kene wae (Ya sudah, disini saja)”, ujar Mangil mengenang kejadian malam itu.

Foto : www.gudeg.net

Dan ternyata di pagi itu, entah hanya sebuah kebetulan saja atau memang ada hubungannya dengan makanan yang disantap Bung Karno malam itu. Namun yang pasti esok harinya sang Presiden mendadak sakit dan muntah-muntah hingga beberapa kali.

Peristiwa sakitnya Bung Karno tak bisa dianggap enteng, apalagi berita tersiar dengan begitu cepat ke seantero negeri. Terlebih lagi, hasil pemeriksaan dokter yang didatangkan dari RRC menunjukkan gejala yang tidak baik bagi Bung Karno, mereka menyimpulkan ada indikasi kegawatan terhadap masalah kesehatan Bung Karno.

Keadaan dianggap semakin genting, karena peristiwa sakitnya Bung Karno ini terjadi bertepatan dengan bulan Agustus, bulan “keramat” bagi bangsa Indonesia yang merayakan kemerdekaannya.

Sudah jadi kebiasaan, disetiap perayaan 17 Agustus, maka pidato Bung Karno adalah hal yang amat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Apakah Bung Karno mampu melaksanakan tugas sakralnya itu nanti ?

Berita sakitnya Bung Karno menyebar cepat dan memanaskan suhu politik dalam negeri. Banyak pihak cemas.

Sebab saat itu, cuma Bung Karno yang dianggap tokoh yang bisa dianggap mampu mempersatukan semua elemen bangsa, terutama 3 golongan besar yang sebenarnya saling bersaing rebutan pengaruh, yaitu golongan agama, golongan nasional dan golongan komunis.

Oleh Bung Karno, ketiga golongan ini kemudian dikumpulkan dan direkat dalam satu wadah kesatuan politik yang bernama “Politik Nasakom”.

Foto : www.kaskus.co.id

Selain itu, Bung Karno juga yang menjadi penengah dan meredam perbedaan pandangan dan perebutan pengaruh antara golongan sipil dengan pihak Angkatan Bersenjata terutama Angkatan Darat yang cukup mendominasi dalam mewarnai perpolitikkan negeri kala itu dibawah pimpinan AH Nasution dan Ahmad Yani.

Sehingga peristiwa sakitnya Bung Karno menjadi perhatian yang amat sangat, terutama bagi PKI. PKI merasa posisinya akan terancam bila terjadi perpecahan dan perebutan kekuasaan dengan para lawan politiknya.

Terlebih lagi bila seandainya Bung Karno wafat, atau terjadi sesuatu yang buruk pada Bung Karno yang menyebabkan ia tak dapat lagi melaksanakan tugasnya.

Maka tak heran, dalam keadaan was-was dan genting itu, Partai Komunis Indonesia (PKI), mengistilahkannya dengan perumpamaan “Ibu Pertiwi sedang hamil tua”.

PKI mulai ambil ancang-ancang untuk membuat suatu aksi untuk singkirkan lawan-lawannya politiknya. Angkatan Darat dan golongan agama adalah pihak yang selama ini dianggap anti-komunis yang paling keras selalu menentang dan menghalang-halangi berkembangnya paham komunis di Indonesia.

Golongan agama telah berhasil mereka singkirkan, setelah Partai Masyumi yang merupakan lawan berat PKI, telah dibubarkan oleh Bung Karno karena dianggap dan dituduh berpihak kepada pergolakkan di daerah Sumatera dan Sulawesi dalam peristiwa PRRI dan Permesta.

Foto : www.newswantara.com

Maka praktis, kini hanya tinggal Angkatan Darat lah yang masih menjadi momok dan batu sandungan bagi mereka untuk menancapkan pengaruhnya di Indonesia.

Terbukti, sejarah telah mencatat bahwa hanya berselang hampir 2 bulan setelah sakitnya Bung Karno itu, pada 30 september 1965, PKI melaksanakan aksi kejinya terhadap 7 Perwira TNI-AD dalam Operasi G-30S.

Sejarah juga yang kemudian mencatat, bahwa peristiwa berdarah subuh hari 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya itu, kemudian menjadi titik balik bagi runtuhnya paham komunis di Indonesia, sekaligus sebagai penanda bagi berakhirnya sebuah era dan dimulainya zaman baru dalam politik Indonesia


Hasil Otopsi Lengkap TNI Korban G30S PKI


Hasil Visum para jenderal TNI AD yang menjadi korban dalam peristiwa 1965 seakan terkunci rapat tanpa ada yang tahu kebenarannya.Hanya desas-desus dan isu yang mengalir dari ruang kelas kedokteran ke kelas yang lain yang menjelaskan bagaimana 7 perwira tersebut dihabisi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).Namun, Intisari edisi September 2009 dengan judul “Saksi Bisu dari Ruang Forensik” mencoba menguak fakta tersembunyi itu. Hasilnya, sungguh menyayat hati.Setelah para korban dievakuasi dari dalam sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 4 Oktober 1965, tujuh mayat jenderal langsung dibawa ke RSPAD guna otopsi.Kala itu, dibentuk tim yang terdiri dari dua dokter RSPAD, dr Brigjen Roebiono Kartopati dan dr. Kolonel Frans Pattiasina, serta tiga ahli Ilmu Kedokteran Kehakiman UI, Prof. dr. Sutomi Tjokronegoro, dr. Liau Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay.beginilah hasil visum yang sebenarnya dari para korban:

Achmad Yani

Referensi pihak ketiga


Achmad Yani mengalami sejumlah luka tembak masuk, yakni di dada kanan bawah, lengan kanan atas, garis pertengahan perut, perut bagian kiri bawah, perut kanan bawah, paha kiri depan, punggung kiri, pinggul garis pertengahan, serta 2 di dada kiri.Luka tembak luar terdapat di dada kanan bawah, lengan kanan atas, dan punggung kiri sebelah dalam. Tak cuma itu, di sebelah kanan bawah garis pertengahan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13 mm, pada punggung kanan iga kedelapan teraba anak peluru di bawah kulit.


R. Soeprapto

Referensi pihak ketiga


Tak jauh berbeda dari Achmad Yani, R. Soeprapto mengalami luka tembak masuk di punggung pada ruas tulang punggung keempat, pinggang kiri belakang, pantat sebelah kanan, pertengahan paha kanan, serta 3 di pinggul kanan (bokong).Luka tembak luar terjadi di pantat kanan dan paha kanan belakang. Selain itu, terdapat luka tidak teratur di kepala kanan di atas telinga, pelipis kanan, dahi kiri, bawah cuping kiri, serta tulang hidung patah dan tulang pipi kiri lecet.

M.T Haryono

Referensi pihak ketiga

M.T Haryono mengalami luka tidak teratur berupa tusukan di perut, punggung tangan kiri, pergelangan tangan kiri, dan sebuah luka di punggung kiri yang tembus dari depan.

Soetojo Siswomiharjo

Referensi pihak ketiga


Soetojo mengalami luka tembak masuk 2 di tungkai kanan bawah dan 1 di atas telinga kanan. Luka tembak keluar 2 di betis kanan dan 1 di atas telinga kanan.Selain itu terdpat luka tak teratur di dahi kiri, pelipis kiri, tulang ubun-ubun kiri, dahi kiri tengkorak remuk, serta penganiayaan benda tumpul di empat jari kanan.

S. Parman

Referensi pihak ketiga


S. Parman mengalami luka tembak masuk pada dahi kanan, tepi lekuk mata kanan, kelopak atas mata kiri, pantat kiri dan paha kanan depan.Luka tembak keluar terjadi di tulang ubun-ubun kiri, perut kiri, dan paha kanan belakang. Selain itu, terdapat luka tidak teratur di kepala belakang, tungkai kiri bawah bagian luar, tulang kering kiri, serta 2 dibelakang daun telinga kiri. Penganiayaan benda tumpul juga terjadi pada rahang atas dan bawah.

D.I Panjaitan

Referensi pihak ketiga

Luka tembak masuk pada D.I Panjaitan terjadi di alis kanan, kepala atas kanan, kepala kanan belakang, dan kepala belakang kiri. Luka tembak keluar terjadi di pangkal telinga kiri. Selain itu, pada punggung tangan kiri terdapat luka iris.

P. Tendean

Referensi pihak ketiga

P. Tendean mengalami luka tembak masuk pada leher belakang sebelah kiri, 2 di punggung kanan, dan 1 di pinggul kanan. Luka tembak keluar terjadi 2 kali di dada kanan.Selain itu, terdapat luka tidak teratur di kepala kanan, tulang ubun-ubun dan puncak kepala. Kondisi lain yang terjadi berupa lecet di dahi dan pangkal dua jari tangan kiri.Hasil visum ketujuh Perwira TNI AD ini mengungkapkan kekejaman PKI terhadap sesama manusia.